Rabu, 15 Februari 2012

Diabetes Militus Tipe-2


Lemak atau lipid adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar di dalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa disimpan di dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi. Tapi taukah anda lemak beresiko menyebabkan penyakit yang berbahaya?
Lemak yang dapat menimbulkan penyakit adalah kolesterol. Kolesterol adalah jenis lemak yang paling dikenal oleh masyarakat. Kolesterol merupakan komponen utama pada struktur selaput sel dan merupakan komponen utama sel otak dan saraf. Kolesterol merupakan bahan perantara untuk pembentukan sejumlah komponen penting seperti vitamin D (untuk membentuk & mempertahankan tulang yang sehat), hormon seks (contohnya Estrogen & Testosteron) dan asam empedu (untuk fungsi pencernaan ).
Kolesterol tubuh berasal dari hasil pembentukan di dalam tubuh (sekitar 500 mg/hari) dan dari makanan yang dimakan. Pembentukan kolesterol di dalam tubuh terutama terjadi di hati (50% total sintesis) dan sisanya di usus, kulit, dan semua jaringan yang mempunyai sel-sel berinti. Jenis-jenis makanan yang banyak mengandung kolesterol antara lain daging (sapi maupun unggas), ikan dan produk susu. Makanan yang berasal dari daging hewan biasanya banyak mengandung kolesterol, tetapi makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tidak mengandung kolesterol.
Namun kolesterol yang berlebihan/hiperkolesterolemia menyebabkan penyakit yang berbahaya, salah satunya adalah Diabetes Melitus Tipe 2/DM2. Penyakit ini salah satunya disebabkan meningkatnya kadar lipid dalam darah dan obesitas/penumpukan lemak yang berlebihan /kegemukan. Saya mengangkat tema Diabetes melitus Tipe 2 karena sangat berkaitan erat dengan lemak sebagai penyebab utama penyakit ini.
Penyakit diabetes mellitus (DM) yang lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan penyakit kencing manis merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya kian meningkat.
Kini, jumlah penderita diabetes di Indonesia semakin bertambah. Tidak hanya orang tua, remaja dan dewasa muda pun ternyata juga diserang penyakit gula. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 tercatat hampir 200 juta orang di dunia menderita diabetes dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlah penderita bisa mencapai sekitar 330 juta jiwa.
Sementara di Indonesia sendiri, berdasarkan data WHO pada tahun 2003 tercatat lebih dari 13 juta penderita diabetes, dari jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 20 juta penderita pada tahun 2030.
Peningkatan prevalensi DM menunjukkan pentingnya upaya pencegahan. DM timbul karena faktor keturunan dan perilaku. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan itu berjalan lambat, sedangkan pandemi DM saat ini merupakan cerminan perubahan gaya hidup.
Faktor keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah, tetapi faktor lingkungan yang berkaitan dengan gaya hidup seperti kurang berolahraga dan asupan nutrisi yang berlebihan serta kegemukan merupakan faktor yang dapat diperbaiki.Tidak diragukan bahwa nutrisi merupakan faktor yang penting untuk timbulnya DM tipe-2. Gaya hidup yang kebarat-baratan dan hidup santai serta panjangnya angka harapan hidup merupakan faktor yang meningkatkan prevalensi DM.

DIABETES MELITUS TIPE 2
Diabetes melitus tipe 2 atau sering juga disebut dengan Non Insuline Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) merupakan penyakit diabetes yang disebabkan oleh karena terjadinya resistensi tubuh terhadap efek insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas. Keadaan ini akan menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi naik tidak terkendali. Kegemukan dan riwayat keluarga menderita kencing manis diduga merupakan faktor resiko terjadinya penyakit ini.
Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh sel beta yang terdapat dalam pankreas. Pada keadaan normal, kadar insulin dalam darah akan berfluktuasi tergantung kadar gula dalam darah. Kadar insulin akan meningkat sesaat setelah makan dan akan menurun begitu kita tidak memakan sesuatu. Fungsi utama insulin adalah mendistribusikan glukosa yang terdapat dalam darah ke seluruh tubuh guna di metabolisme untuk menghasilkan energi. Bila kadar gula atau glukosa yang ada melebihi kebutuhan maka kelebihan itu akan disimpan dalam hati. Simpanan glukosa ini akan dilepaskan jika diperlukan misalnya saat tubuh kita kelaparan.
Saat seseorang menderita diabetes melitus tipe 2 maka ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu, sel beta yang terdapat dalam pankreas produksi insulinya tidak mencukupi atau produksinya cukup namun tubuh resisten terhadap insulin. Kedua keadaan ini akan menyebabkan kadar glukosa dalam darah akan meningkat.
Untungnya tubuh mempunyai mekanisme yang sangat bagus untuk memberitahukan kita bila terjadi suatu kelainan. Sangatlah penting untuk mengetahui gejala diabetes melitus tipe 2 secara dini sebab semakin dini pengobatan dilakukan maka akan semakin bagus hasilnya dan semakin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi.
Diabetes mellitus tipe 2 terdiri array disfungsi yang dihasilkan dari kombinasi perlawanan terhadap tindakan insulin dan sekresi insulin tidak memadai. Ini adalah gangguan yang ditandai dengan hiperglikemia dan yang terkait dengan mikrovaskuler (yaitu, retina, ginjal, mungkin neuropati), komplikasi macrovascular (yaitu, koroner, perifer pembuluh darah), dan neuropati (yaitu, otonom, perifer).
Tidak seperti pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 , pasien dengan tipe 2 tidak benar-benar tergantung pada insulin untuk hidup. Perbedaan ini merupakan dasar untuk istilah yang lebih tua untuk tipe 1, dan 2 insulin dependent dan non-insulin dependent diabetes. Namun, banyak pasien dengan diabetes tipe 2 akhirnya diobati dengan insulin. Karena mereka mempertahankan kemampuan untuk mengeluarkan beberapa insulin endogen, mereka dianggap membutuhkan insulin namun tidak bergantung pada insulin. Namun demikian, mengingat potensi kebingungan karena klasifikasi berdasarkan perlakuan daripada etiologi, istilah-istilah ini telah ditinggalkan.
Istilah lain yang lebih tua untuk diabetes mellitus tipe 2 adalah diabetes onset dewasa. Saat ini, karena epidemik obesitas dan tidak aktif pada anak-anak, diabetes mellitus tipe 2 yang terjadi pada umur yang lebih muda. Meskipun diabetes mellitus tipe 2 biasanya mempengaruhi orang yang lebih tua dari 40 tahun, telah didiagnosis pada anak-anak berumur 2 tahun yang memiliki sejarah keluarga diabetes.
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perhatian medis jangka panjang baik untuk membatasi pengembangan komplikasi yang merusak dan untuk mengatur mereka ketika mereka lakukan terjadi. Ini adalah penyakit yang tidak proporsional mahal, di Amerika Serikat pada tahun 2002, biaya per kapita dari perawatan kesehatan adalah $ 13.243 untuk penderita diabetes, sementara itu $ 2560 untuk mereka yang tidak diabetes. Departemen darurat tingkat pemanfaatan oleh penderita diabetes adalah dua kali lipat dari populasi tidak terpengaruh.
Diabetes tipe 2 ditandai oleh kombinasi resistensi insulin perifer dan sekresi insulin yang tidak memadai oleh sel beta pankreas. Resistensi insulin, yang telah dikaitkan dengan peningkatan kadar asam lemak bebas dalam plasma, menyebabkan penurunan transpor glukosa ke dalam sel otot, peningkatan produksi glukosa hati, dan meningkatkan penguraian lemak.
Untuk tipe 2 diabetes mellitus terjadi, baik cacat harus ada. Sebagai contoh, semua individu kelebihan berat badan memiliki resistensi insulin, tetapi diabetes berkembang hanya pada mereka yang tidak dapat meningkatkan sekresi insulin cukup untuk mengkompensasi resistensi insulin mereka. Konsentrasi insulin mereka mungkin tinggi, namun tidak tepat rendah untuk tingkat glycemia.
Pada diabetes tipe 2, pankreas memproduksi insulin, namun sel-sel tubuh tidak meresponnya secara normal. Jenis diabetes ini biasanya terkait dengan kegemukan dan beberapa kasus kehamilan serta baru berjangkit pada usia di atas 40 tahun.
Kadar gula darah tinggi secara lambat laun akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan saraf yang mengakibatkan gangguan fungsi mata, ginjal dan saraf serta meningkatkan risiko serangan jantung, stroke dan impotensi.

Siklus Diabetes Melitus tipe 2 :
1. Lambung mengubah makanan menjadi gula (glukosa)
2. Glukosa masuk ke dalam aliran darah
3. Pankreas memproduksi insulin
4. Insulin masuk ke saluran darah
5. Glukosa tidak dapat masuk ke sel tubuh, akibatnya glukosa menumpuk di pembuluh darah

Fungsi Insulin
Insulin adalah hormon yang disekresi oleh pankreas. Pankreas merupakan organ yang letaknya di belakang lambung dan memiliki fungsi memproduksi enzim-enzim pencernaan dan hormon. Ketika karbohidrat diserap dari usus halus ke dalam darah, pankreas akan terangsang untuk melepaskan insulin secara proposial. Kebanyakan sel tubuh memiliki reseptor insulin yang mengikat insulin yang beredar dalam tubuh. Dengan adanya reseptor insulin tersebut, sel-sel dapat menyerap glukosa dari aliran darah ke dalam sel. Sel memanfaatkan glukosa dan nutrisi lainnya sebagai energi.
Tanpa insulin, kita bisa banyak makan tapi tetap merasa lapar karena banyak sel tubuh tidak menjaring glukosa tanpa bantuan insulin. Inilah yang terjadi pada penderita diabetes tipe 1. Gangguan pada produksi insulin di pankreas dapat menyebabkan kadar gula dalam darah terganggu.

Gejala pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2
§ Kelelahan yang luar biasa merupakan gejala yang paling awal dirasakan oleh penderita diabetes melitus tipe 2. Pasien akan merasakan tubuhnya lemas walaupun tidak melakukan aktifitas yang tidak terlalu berat. Jadi, bila anda selalu merasa lelah dan mengantuk meskipun sebelumnya anda tidak begadang, ada baiknya anda segera menemui dokter.
§ Penurunan berat badan secara drastis. Jika anda memakan makanan yang berlebihan maka tubuh anda akan semakin gemuk. Kelebihan lemak dalam tubuh akan menyebabkan resistensi tubuh terhadap insulin meningkat. Pada orang yang telah menderita diabetes, walaupun ia makan makanan secara berlebihan tubuhnya tidak menjadi gemuk dan malah mengurus hal ini disebabkan karena otot tidak mendapatkan cukup energi untuk tumbuh.
§ Gangguan penglihatan. Kadar gula yang tinggi dalam darah akan menarik cairan dalam sel keluar, hal ini akan menyebabkan sel menjadi keriput. Keadaan ini juga terjadi pada lensa mata, sehingga lensa menjadi rusak dan penderita akan mengalami gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan ini akan membaik bila diabetes melitus berhasil ditangani dengan baik. Bila tidak tertangani, gangguan penglihatan ini akan dapat memburuk dan menyebabkan kebutaan.
§ Sering terinfeksi dan bila luka sulit sekali sembuh. Keadaan ini bisa terjadi karena kuman tumbuh subur akibat dari tingginya kadar gula dalam darah. Selain itu, jamur juga sangat menikmati tumbuh pada darah yang tinggi kadar glukosanya.
§ Muncul perlahan-lahan sampai timbul gangguan yang jelas.
Dalam mendiagnosis penyakit DM tidak hanya dilihat pada adanya kadar glukosa dalam air seni tapi juga yang paling penting, dilakukan pemeriksaan glukosa darah dalam aliran darah.
Kadar glukosa darah waktu puasa : < 100 mg/dl
Kadar glukosa darah 2 jam sesudah puasa : < 140 mg/dl
Faktor risiko utama untuk diabetes mellitus tipe 2 adalah sebagai berikut:
·         Umur lebih dari 45 tahun (meskipun, seperti disebutkan di atas, tipe 2 diabetes melitus terjadi dengan meningkatnya frekuensi pada individu muda)
·         Berat lebih besar dari 120% dari berat badan yang diinginkan
·         Riwayat keluarga diabetes tipe 2 pada seorang saudara tingkat pertama (misalnya, orang tua atau saudara)
·         Hispanic, Native American, African American, Asian American, atau Pasifik Strait Islander
·         Sejarah sebelumnya toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa puasa terganggu (IFG)
·         Hipertensi (> 140/90 mm Hg) atau dislipidemia (high-density lipoprotein [HDL] kadar kolesterol <40 mg / dL atau tingkat trigliserida> 150 mg / dL)
·         Sejarah mellitus gestational diabetes atau melahirkan bayi dengan berat lahir> £ 9
·         Sindrom ovarium polikistik (yang menyebabkan resistensi insulin)

Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2
Gizi Sehat dan Seimbang :
1.    Makanlah aneka ragam makanan
          Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat dan produktif. Oleh karena itu setiap orang termasuk penyandang DM perlu mengonsumsi aneka ragam makanan. Makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2.    Makanlah untuk memenuhi kecukupan energi (capai dan pertahankan berat badan normal)
          Kelebihan gizi terutama makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat dapat menimbulkan kegemukan yang berujung timbulnya DM. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan sedang pada orang gemuk dan kemudian dipertahankan dapat menurunkan risiko timbulnya DM tipe 2.
          Mempertahankan berat badan normal/ideal sesuai dengan umur dan tinggi badan diperlukan untuk pencegahan DM. Peningkatan aktivitas fisik dan mengurangi makan adalah cara yang baik untuk penurunan berat badan.
          Kebutuhan energi seseorang bergantung pada usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan kegiatan fisik, keadaan penyakit dan pengobatannya.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, sebagian dari kebutuhan energi (pilihlah karbohidrat kompleks dan serat, batasi karbohidrat sederhana yang (refined)
4.    Batasi konsumsi lemak, minyak dan santan sampai seperempat kecukupan energi
Lemak dan minyak dalam makanan berguna untuk memenuhi kebutuhan energi, membantu penyerapan vitamin A, D, E dan K serta menambah lezatnya makanan. Bagi kebanyakan penduduk Indonesia, khususnya yang tinggal di pedesaan konsumsi lemak/minyak masih sangat rendah sehingga perlu ditingkatkan, sedangkan konsumsi lemak pada penduduk perkotaan sudah perlu diwaspadai karena cenderung berlebihan.
   Kebiasaan mengonsumsi lemak hewani berlebihan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah   arteri dan penyakit jantung koroner. Membiasakan makan ikan dapat mengurangi risiko menderita penyakit jantung koroner karena lemak ikan mengandung asam lemak omega-3.
          Mengurangi asupan lemak, terutama lemak jenuh dapat menurunkan risiko DM. Beberapa contoh sumber asupan lemak jenuh adalah makanan yang dimasak dengan banyak minyak, mentega ataupun santan, lemak hewan, susu penuh (whole milk) dan cream.
5.    Gunakan garam beryodium
          Konsumsi natrium dalam garam dapur (natrium klorida) yang belebihan dapat memicu terjadinya penyakit darah tinggi. Anjuran asupan natrium untuk penduduk biasanya tidak lebih dari 3000 mg perhari yaitu kira-kira 1 sendok teh yang digunakan dalam memasak.
6. Berikan ASI saja pada bayi minimal sampai umur 4 bulan.
ASI adalah makan terbaik untuk bayi. Pada usia 0-4 bulan, bayi cukup diberi ASI (ASI eksklusif) karena ASI pada periode tersebut sudah mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang yang sehat.
          Kurang gizi selama awal kehidupan atau bahkan saat di dalam kandungan juga memainkan peranan penting pada timbulnya DM tipe 2 di kemudian hari setelah dewasa, melalui mekanisme resistensi insulin.
7. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
Kegiatan fisik dan olahraga bemanfaat bagi setiap orang karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan.

KESIMPULAN
            Faktor penyebab Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu terjadinya resistensi tubuh terhadap efek insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas. Keadaan ini akan menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi naik tidak terkendali. Kegemukan dan riwayat keluarga menderita kencing manis diduga merupakan faktor resiko terjadinya penyakit ini.
Siklus Diabetes Melitus tipe 2 :
1. Lambung mengubah makanan menjadi gula (glukosa)
2. Glukosa masuk ke dalam aliran darah
3. Pankreas memproduksi insulin
4. Insulin masuk ke saluran darah
5. Glukosa tidak dapat masuk ke sel tubuh, akibatnya glukosa menumpuk di pembuluh darah

SARAN

     Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit yang diakibatkan produksi lemak yang terlalu banyak. Untuk itu sebaiknya kita cegah penyakit tersebut dengan menjaga gizi sehat dan seimbang, kurangi konsumsi makanan berlemak dan hidup sehat serta berolahraga secara teratur.


DAFTAR PUSTAKA
Fidianingsih, Ika. 2007. Sel Lemak Dan Peranannya Dalam Penyakit. Jurnal UII, Volume 386. Hal 129-137.
Daliemunthe, Saidina Hamzah. 2006. Diabetes Melitus. Dentika Dental Jurnal, Volume 11 no.2. Hal 184-7


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagi teman-teman yang ingin berkomentar di persilahkan.
Terima kasih telah berkunjung :)